Selasa, 06 April 2010

Decline Curve

DECLINE CURVE

1. UJI PRODUKSI

Uji produksi dilakukan untuk mengetahui kemampuan produksi dan karakteristik sumur, salah satunya dengan metode back pressure.

Back pressure merupakan salah satu metode uji produksi dengan memberi tekanan balik (back pressure) yang berbeda beda. Pelaksanaannya dari tes konvensional dimulai dengan menstabilkan tekanan reservoir dengan cara menutup sumur lalu tentukan harga Pr (tekanan reservoir). Selanjutnya sumur dibiarkan berproduksi dengan laju produksi yang diubah ubah minimal 3x. Pengubahan laju produksi dilakukan setelah tekanan stabil. Setiap pergantian laju produksi tidak didahului dengan penutupan sumur.
Persamaan dasar untuk menentukan kemampuan sumur yaitu dengan menggunakan persamaan Fetkovich yaitu :

M = C(Pr^2 – Pwf^2)^n 

M : laju produksi, kg/s
Pr : tekanan reservoir rata rata, ksc
Pwf : tekanan aliran dasar sumur, ksc
C : konstanta dengan satuan yg bergantung pada q dan P
n : derajat pengaruh factor inersia turbulence aliran, 0.5 ≤ n ≤ 1,
Pada sumur panas bumi tekanan dasar sumur dapat diestimasi oleh ukuran tekanan kepala sumur yang stabil (Pwh) sehingga persamaan (1) dapat ditulis dengan :
M = C(Pr^2 – Pwh^2)^n (2)

Jika maka hubunganantara M dan pada kondisi aliran stabil berdasarkan persamaan persamaan (2) dalam menentukan kemampuan sumur adalah :

M = C (∆P^2)^n
Log M = Log C + n Log (∆P^2) (3)


2. DECLINE CURVE ANALYSIS

Decline Curve Analysis digunakan untuk estimasi perhitungan cadangan yang dapat diamati dari suatu lapangan yang mencerminkan tingkat keekonomian dari lapangan tersebut dan memprediksi kinerja produksi suatu lapangan berdasarkan data yang ada. Perhitungan decline curve didasarkan pada penurunan laju produksi di masa mendatang. Dengan menggunakan asumsi bahwa laju produksi secara kontinu mengikuti trend yang sudah ada, maka besarnya cadangan panas bumi akan dapat diperkirakan dari model trend yang telah dibuat..

Persamaan decline curve merupakan persamaan yang dikembangkan oleh Arps, (Ashtat, 2000) yaitu :

q(t) = qo / (1 + nDt)^-1/n (4)

q(t) = laju produksi panas bumi pada saat t
qo = laju produksi panas bumi awal, t = 0
n = konstanta Arps (dari laju produksi standard)
D = Decline rate awal

dimana n = 0 untuk fungsi eksponential dan n = 1 untuk fungsi harmonik.
Persamaan (4) digunakan dengan asumsi :
1. sumur diproduksi pada kondisi tekanan bawah sumur konstan
2. tidak ada perubahan area pengurasan
3. permeabilitas dan skin factor konstan
Pandang persamaan (4) , jika n = 0 pada kondisi apapun, maka :

q(t) = qo e^Dt (5)

Ln q(t) = ln (qo) - Dt (6)

Korelasikan hasil persamaan (6) terhadap waktu (t) kemudian diplot sehingga diperoleh ln (qo) = titik potong grafik dengan waktu dan D = -(kemiringan grafik dengan ln (mass flow normalisasi)).

Prosedur kerja pengolahan data

Ambil C dan n dari hasil perhitungan n uji produksi; dan data laju alir massa (M) dan tekanan alir kepala sumur P¬wh yang diperoleh setiap hari. Akan dihitung tekanan dalam reservoir (Pr) dengan menggunakan persamaan :

Pr = √(M/C)^1/n + Pwh^2 (7)

Hitung laju alir normalisasi setiap harinya denganmenggunakan tekanan aliran dasar sumur pada kondisi stabil, Pwh = 15, sehingga :


q(t) = C [Pr^2 – 15^2]^n (8)

Persamaan di atas dapat dilinierkan kemudian hasilnya yaitu ln(M) korelasikan dengan waktu sehingga didapat ln(M) = titik potong grafik dengan waktu, dimana

M = exp ln(M) (9)

Langkah perhitungan :
Diketahui n, C, Pwh initial dari hasil pengukuran. Akan dihitung D dan qo

1. Hitung Pr dengan menggunakan persamaan Pr = √(M/C)^1/n + Pwh^2 dengan M diperoleh dari data mass flow setiap harinya.
2. Hitung Mnorm, Mnorm = C (Pr^2 – 15^2)^n untuk setiap t
3. Hitung ln Mnorm, korelasikan dengan t sehingga diperoleh bentuk persamaan :

y = αt + ᵦ

y = ln q(t) ; α = D ; ᵦ= ln qo

Selengkapnya download di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar